Sumber: Story Foto Koleksi Museum Asi Mbojo di ruangan Sultan Abdul Hamid oleh Tim Arkeologi
Bima, Potretntb.com - Untuk mengenang malapetaka Bumi letusan Tambora pada tahun 1815, saya merilis rekaman peristiwa itu secara bersambung. Tulisan ini digali dari berbagai sumber termasuk dari Thomas Stamford Raffles, BO Sangaji Kai, Syair Khatib Lukman dan lainnya.
Setahun sebelum letusan dahsyat Tambora, salah seorang petualang yang bernama John Crawfud mengikuti sebuah ekspedisi menyusuri pantai Sumbawa dalam perjalanan ke Makassar. Pada pelayaran itu, ia menyaksikan langsung bagaimana suasana perairan pulau Sumbawa dan tanda tanda Tambora akan meletus.
Dia menulis sebagai berikut:
"Di kejauhan awan abu menghitam membumbung di tepian cakrawala, seolah kami dihantam ancaman badai tropis ketika mulai merapat dan layar digulung.
Dari catatan di atas, alam sebenarnnya telah memberikan tanda tentang malapetaka bumi yang dahsyat itu. Pada 5 April 1815 Tambora mulai meletus. Puncaknya adalah pada tanggal 10-12 April 1815.
Residen Gresik Jawa Timur menulis sepujuk surat kepada Gubernur Jendral Inggris Thomas Stamford Raffles. Surat itu memuat laporan tentang situasi daerah Gresik ketika Letusan Tambora. Isi surat itu sebagai berikut:
" Pagi itu tanggal 12, aku terbangun, malam terasa sangat panjang, jam tanganku menunjuk pukul 08:30, di luar kulihat kabut abu turun. Sampai jam 09.00 belum ada cahaya matahari. Selapis abu tebal menumpuk di teras Kadipaten pada pukul 10:00. Seberkas cahaya samar samar mulai terlihat pada pukul 10:30. Jarak pandang hanya 50 yard. Sarapan pagi kami pada pukul 11:00 di terangi lilin"
(Bersambung)
Penulis: Alan Malingi

